Skenario terbaik

Disinilah kita, terperangkap membisu dalam dimensi balok menyusuri jalanan Arteri Pondok Indah.

Siapa sangka kedai ini akan jadi tempatnya, tempat terakhir bagi kita keluar makan malam atau sekedar mencari keramaian, tempat terakhir yang berarti sebuah pemberhentian sejenak sebelum akhirnya terbelah akibat persimpangan.

Mungkin ini terdengar jahat bahwa aku merencanakan untuk berakhir denganya. Aku sudah merencanakanya sejak hari kemarin dengan banyak pertimbangan, kemungkinan akan kusesali nantinya sampai pada skenario terburuknya semua sudah ku pikirkan matang-matang : mengajaknya ketempat makan yang ramai, mengatakan yang sebenarnya, semua akan baik-baik saja dan kita kembali menjadi teman seperti sebelumnya.

Sabtu malam di minggu kedua-keempat adalah favoritku, dalam kalender hubungan kita, biasanya kami akan keluar 2 kali dalam sebulan di minggu genap. Kami sama-sama tidak suka pacaran yang terlalu intensif apalagi hampir setiap hari di sekolah bertatap muka.

Jam 5 sore, seperti biasa aku bersiap untuk menjemputnya. Hari ini cukup kering mengingat masih dalam bulan Juni dan sudah kupastikan bahwa starlet putih tua itu siap untuk hari ini. Benar saja, menstartenya tidak pernah semudah ini sebelumnya. Seperti biasa, aku pergi mengenakan skinny  jeans hitam usang dan kaos merah maroon kesukaanku bertuliskan sushivora dan cardigan biru rajut two tone di kursi belakang. Tepat sebelum matahari menghilang aku tiba di rumahnya, memarkir mobil tepat di ujung jalan  lalu, mengirimkan IM padanya.

Juan : “Siputih udah didepan”

Odi : ” Tunguin!”

Juan : “Jangan lama!”

Odi : ” Bawel!”

Sudah menjadi tradisi dan bukan rahasia umum lagi kalau siputih akan muncul dalam minggu genap di ujung jalan residance ini. Bisa di bilang kami backstreet, jangan salahkan aku jika parkir terlalu jauh, semua ini karena Odi melanggar peraturan orangtuanya, yaitu tidak ada pacaran sampai lulus dari SMA, lucunya kita telah berpacaran sejak di ahir bangku 3 SMP, dan akan jadi tahun ketiga bila agenda hari ini kukacaukan, gagal.

Dari sepion di kananku terlihat wanita dengan kaos biru bergaris yang ku hafal betul berjalan dari kejauhan dengan tas kecil yang menggantung di bahunya. Aku menepuk-nepuk kecil kursi penumpang di sebelahku, ” sekali ini saja, maafkan majikanmu,” sambil berbisik pelan. Tanpa disadari Odi sudah berada di samping pintu mengetuk memberi isyarat. Aku menarik tuas kunci dengan tergesa.

Aku mulai menurunkan rem tangan ketika Odi tengah memasang sabuk pengamanya.

“Mau kemana kita Ndut?” kataku, mengawali percakapan.

“Pertama-tama aku perlu ke toko buku, membeli beberapa alat tulis. Selanjutnya kita ke supermarket untuk membeli beberapa tuna segar, aku kepingin masak fillet tuna, selanjutnya gantian malam ini kamu yang menentukan dimana kita akan memuaskan perut buas ini.” jawabnya.

“Kalo gitu kita ke Gandaria City dulu, kalo makan… bagaimana dengan kerang?”

“Yap, pertama-tama kita harus ke Mall dulu.”

Jika kau benar-benar mengenal Odi, dia sangat teliti dalam memadukan warna alat tulisnya, kebanyakan semuanya berwarna ungu, mulai dari tempat pensilungu neon transparanya, penggaris berwarna ungu, stabilo sampai dengan ballpoint ungu. Catatanya begitu rapi, Odii rajin dan suka merapikan catatanya kembali dengan ballpoint warna-warni agar lebih mudah mengingat katanya. Kreatif. Hal yang paling di benci dari semua ini adalah jika salah satu koleksi ungunya ada yang hilang.

“Aku kesel banget, ada yang minjem SARASA ungu gabilang-bilang coba! Apasih susahnya tinggal izin aja, mana gak di balikin lagi.” Kata Odii disela-sela mencari ballpoint barunya dengan geram.

“Kalo aku jadi dia, pasti semua koleksi SARASAmu udah ku jual setengah harga ke anak-anak lainya.” Kataku meledeknya.” Aku bisa saja melakukanya, yeah lumayankan buat beli 2 paket BIG-MAC Mc donald.”

Odii mencubit kecil lenganku dengan ibu jari besarnya,”Coba saja sampai berani!”

“Hahaha,” aku tertawa kecil sambil mengusap kencang lenganku. Dia bisa saja jadi seorang cheerleader di sekolah, disini dia sesuatu yang lain bagiku.  Audika Amalia, yang memiliki 8 suku kata, bisa saja dipanggil Audi atau mengeja nama depanya secara penuh Audika tetapi tidak dengan nama belakangnya, terlalu sulit untuk di penggal tapi kadang namanya sering diucapkan secara utuh dengan ke tak-laziman Audika Amalia. Namun orang-orang terlanjur mengenal dan memanggilnya Odi dengan sejarah keberadaanya. Dari dulu Odi sudah populer dikalangan cowok – cowok, di usianya yang baru 16 tahun sudah memiliki bentuk tubuh paras cheerleader profesional, ya dia cukup keras dengan latihanya dan sangat tidak main-main saat sudah bicara tentang posture. Pada tahun pertamanya dia sudah di angkat jadi kapten club cheerleader. Dia punya rambut lurus sedikit melewati garis bahunya dengan gelombang pada ujung – ujung rambut, sorot matanya bergaya emo meninggalkan kesan penasaran pada pribadinya bila menatapnya terlalu lama. Jenius dan terbaik dalam kelasnya. Ku ulangi sekali lagi, Odi memiliki postur badan layaknya cheerleader profesional di usianya yang baru 16 (kini 18 tahun), seorang jenius dan terbaik di kelasnya sekaligus kapten club cheerleaders dan yang terbaik dari semua ini adalah sekarang dia denganku, laki-laki setinggi 172 cm, setengah introvert setengah extrovert, labil, tidak dewasa dan yang paling iconic dariku adalah kantung mata yang seperti kantung milik kangguru, mungkin bisa kugunakan untuk menyimpan beberapa kaleng cola saat belanja ke minimarket dan tak punya cash.

Selanjutnya kita menuju supermarket di lantai dasar. Acara satu ini tidak pernah berhasil membuat kami bosan. Acara belanja termasuk  dalam 5 kegiatan paling menyenangkan dilakukan bersama pasangan. Membayangkan diri kami ada di rumah yang sama 7-10 tahun lagi berbelanja berbagai kebutuhan rumah. Semua mengenai peralatan biar Odi yang mengurusi melihat dia lebih teliti dibanding denganku, sedangkan urusan dapur adalah kuasaku. Setidaknya pengalaman dapurku lebih lama darinya bisa dibilang aku ahlinya disini. Sambil menyusuri lemari pendigin besar berisikan sayur dan bahan-bahan beku lainya kita mulai memainkan peran masing – masing.

“Aku akan mengukus wortel dan ketnag di sana setelah memotongnya bentuk julienne dan dadu, serta beberapa buncisnya.” kataku dengan kedua tangan memegang wortel di udara.

” Ide bagus, cocok dengan tunanya. ” Odi berjalan ke rak bayam merah dan mengambil beberapa ikat dan menambahkan daun selada. ” Jangan lupakan mereka.”

“Ceklist!” sahutku.

Kita berjalan menuju bagian seafood. Aku terlebih dahulu menyambar container penuh dengan udang. Cara terbaik mengetahui kesegaran udang adalah dengan menekan perutnya, jika masih keras berarti udang itu segar, bila lembek sudah pasti udang itu tak layak. Udang windu seperti ini cocok bila di bakar dengan saus madu. Pertama-tama belah dua tubuhnya lalu tusuk sebelum akhirnya dibakar. Odii tengah menimbang tuna miliknya, aku menyusulnya kemudian.

Berikutnya adalah bahan dapur, aku mengambil bahan-bahan yang tertera dalam daftar belanja Odi, aku menambahnkan satu botol jar pickle dan saus tiram kedalam listnya. Lada hitam bubuk, lada putih, garam, gula, bumbu dapur dan mayonaise untuk salad kami nanti. Mataku menyusuri list kembali, ada yang janggal. Ada sesuatu yang hilang disini. Aku mengurutkan kembali semuanya, tetap saja tidak menemukan apa-apa. Odii sibuk mencari sereal HOOPS kesukaanya selagi aku mendorong trolley di tepat di belakangnya.

“Susu cair kita habis, akan aku ambilkan beberapa untuku dan punyamu.” Aku lalu berjalan mendahuluinya menuju rak susu.

Odi menghampiriku menaruh serealnya dengan seksama, aku memberikan beberapa susu padanya,supaya ia bisa menyusunya dengan hati-hati. Selanjutnya aku mengarahkan trolley menuju rak mie instan, aku meraih beberapa bungkus mie instan di kiriku lalu menaruhnya ke dalam trolley, disana Odii memperhatikanku tak bergeming.

“Apa?” tanyaku.

“Sebanyak itu?”

“Biasanya juga sebanyak ini, 4 bungkus goreng untuku dan 3 rebus untukmu.”

Odi masih tetap menatapku aneh sebelum akhirya bersuara kembali. “Itu bahkan tidak masuk dalam daftar!”

Ah, aku ingat sekarang soal daftar yang kurang tadi. Tidak ada satupun mie instan dalam listnya.

“Stop makan – makanan itu. Tidak sehat sama sekali!”

“Tapikan.. .” Belum selesai aku berkomentar, Odi menyela, “Juu!” Seolah aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya. Odi memang selalu cerewet dan menyebalkan ketika membahas soal kesehatan, yeah itu sebabnya aku menyukainya sampai saat ini, begitu perhatian dan tegas.

Tapi, aku masih belum mau menyerah. “Kau tega merusak kebahagiaan seseorang di pagi hari? Mie instan ini adalah dosa ternikmat bagi jutaan manusia normal di muka bumi ini. Bayangkan bagaimana rasanya kau bangun pada Minggu pagimu tak menemukan sereal Hoops kesukaanmu, kau akan merapel sarapanmu dengan makan siang sekaligus dan kau tahu rasanya sangat sangat tidak enak bukan?”

Odi melipat kedua tangan di dadanya, geram.

“jadi?” tanyaku lagi.

“Dua dan tidak lebih. Oh iya tambahkan juga 3 bungkus rebus mengingat jumlah konsumsiku dalam sebulan jauh lebiih sedikit darimu.”

Aku mengiyakan tanpa perlawanan. “Yes, Mam!”

Sebelum sampai kasir, kami sempat menambahkan beberapa snack saat melewati rak makanan ringan. Disinilah dramanya harus berakhir, siapa yang akan membayar semua barang-barang ini? Tidak untuk anak SMA seperti kami. Aku meluncurkan trolley tadi mencampakanya ke rak permen di belakang, mengambil satu-satunya barang yang kita butuhkan yaitu: tuna.

Yeah tenang saja, kami sudah cukup sering melakukan ini sebelumnya, dan bisa kupastikaan tidak akan ada yang bermasalah untuk mengembalikan barang tadi pada tampat semula terkecuali udang, semoga saja ia masih tetap segar.

Dua puluh menit kemudian kami sampai pada sebuah kedai kerang di kawasan jl. Bumi, kedai itu berada di pinggir jalan sisi ruas sebelah kanan tepat sebelum kau dapat melihat ada sekolah dasar di depanya. Jauh melebihi perkiraan awalku, aku tak menyangka bila nomor antrean bisa sepanjang ini, tidak begitu heran mengingat ini malam minggu. Yang terbaik dari tempat ini adalah kerang yang kita pesan biasanya langsung dalam jumlah kilo-an, ada beberapa jenis kerang yang di display disana, kita dapat langsung memilih jenis apa yang mau dipesan.

Odi mengeluarkan post-it miliknya, mengambil pulpen di dalam tas kecilnya.

“Aku mau kerang rebus, dan kerang bambu,” pintaku.

Aku melirik isi pesananya, dalam kertas pesanan tertullis:

2 kg Kerang ijo goreng

1 kg kerang dara rebus

1/2 kerang bambu

2 saos garlic

1 saos padang

1 saos mushroom dicampur saos cheesy

2 es teh

1  gram cinta untuk pesanan gak pake lama 🙂

Kertas pesanan itu kini tercampur dengan kertas pesanan lainya, tetapi sangat mudah untuk membedakanya. Satu-satunya pesanan yang di tulis di atas post-it berwarna biru cerah adalah milik kami.

“Duduk Ndut.” kataku sembari mengambilkanya kursi kosong.

“Mau berbagi kursi?” Tanyanya yang hanya kubalas dengan menggelengkan kepala.

Aku berdiri tak cukup lama hingga kami dapat meja untuk dua orang. Tidak ada handphone di meja, tidak ada satupun dari kita yang ingin menggunakan itu sekarang. Salah satu aturan yang kami sepakati bersama yaitu tidak ada ponsel di jam kencan. Tentu saja aku menyutujuinya, sibuk dengan ponsel berarti membunuh waktu kami. Hampir setengah jam sampai pesanan kami datang, tapi itu bukanlah waktu yang lama bila di lewatkan dengan sebuah obrolan yang tak berujung. Odi baru saja selesai membahas sebuah film kartun berjudul ‘Mr. Peabody’. Bercerita tentang seekor anjing yang ingin mengadopsi seorang anak lalu mengajari sejarah dengan menjelajah mesin waktu, mendatangi lokasi tempat sejarah itu tengah berlangsung. Bukanlah film yang buruk untuk di tonton.

Aku dengan lihai membuka cangkang kerang dara untuknya. Aku tahu dia kesusahan membuka cangkang-cangkang itu, meskipun tidak di minta, naluriku bergerak begitu saja. Odi mengambil beberapa daging kerang lalu mencocolnya ke saus di tangan kirinya, menyodorkan tepat ke depan mulutku.

“Buka!”

Aku merasakan garpu itu masuk sedikit terlalu dalam hingga aku tersedak kecil. Dia menggigit kecil bibirnya berkata, “Sori.” Ku balas dengan muka jengkel yang tidak sepenuhnya benar-benar jengkel.

Disaat yang bersamaan aku menyelipkan kata,”Aku mau putus.”

Dia terbahak sejenak. “Usaha yang bagus, tuan jago akting!”

“Tidak kali ini serius.”

“Hmmmmm… .”

“Katakan padaku, ini bukan karena garpu barusan?”

“Bukan.” Jawabku singkat.

Menyipitkan matanya, menurutku itu caranya bereaksi. “Berikan ponselmu!”

“Untuk?”

“Untuk memastikan bahwa ada wanita lain di balik semua ini!” Jawabnya.

“Uhhh… ehhhh” balasku kikuk. “Tidak.”

“Kau tahu? Sekarang kau adalah tuan akting terburuk yang pernah kutemui!”

Aku tak membalasnya. Aku sadar membalasnya akan memperburuk keadaan dan bukan waktuku untuk membela diri. Kami melanjutkan kembali menghabiskan pesanan tanpa banyak berbicara. Daging kerang yang kubukakan untuknya dibiarkan begitu saja tak tersentuh oleh garpunya. Aku memberikan dompetku padanya, mengisyaratkan untuk segera membayar dan meninggalkan tempat ini. Seolah tidak terjadi apa-apa, kami bertingkah seperti semua ini baik-baik saja, hanya sedikit agak canggung ketika berdialog.

“Ku antar kau pulang Ndut.” kataku menggandeng tanganya, menariknya kepada starletku.

Aku bisa mendengar suara nafasnya menjadi berat di saat dia mendiamiku, Aku bisa melihat pipinya yang basah ketika lampu kuning jalan menerpa wajahnya sesekali. Aku ingin menjelaskan tetapi mulutku membisu sendirinya, situasi cangung ini terus berlangsung sambil starlet melaju di jalan arteri ini.

Starlet tidak berhenti di ujung jalan lagi, aku mengantarnya tepat di seberang depan rumahnya, jam di mobil menunjuk pukul 22.16, tidak ada satupun dari kita yang berani bersuara, butuh waktu hampir semenit sampai Odi melepaskan sabuk pengamanya. Aku tergesa melepaskan punyaku, keluar dari pintu supir, berlari memutar membukakan pintu untuknya. Dia merogoh kantung plastik berisi tuna di kursi belakang sebelum keluar. Kini kita berdiri berhadapan di tengah jalan kosong. Odi menundukan pandanganya seperti menunggu aku bereaksi tapi tak kulakukan.

“Aku harus pulang.” Suaranya parau.

“Yeah. Aku minta ma… .” Odi memotongku,” tidak perlu, ini bukan salahmu.”

Odi berjalan menjauh, aku bersender pada pintu mobil menunggunya masuk kedalam rumah. Langkahnya tiba-tiba terhenti, dia memutar badanya lalu berjalan cepat kearahku seperti ingin melampiaskan amarahnya. Tangan kanan yang tak memegang tuna terlihat di kepalkan seolah akan ada suatu ledakan hebat yang akan dia luncurkan padaku, Odi mengangkat tangan kananya ke udara, aku menutup mataku bersiap menerimanya mentah-mentah. Bukanya mendaratkan sebuah pukulan, Odi malah menabraku cukup keras, melingkarkan kedua tanganya ke pinggangku, memeluku erat. Terdengar suara isak tangis, di ikuti oleh kausku yang basah oleh air matanya. Aku segera membalasnya, mendekap mengusap kepalanya, berharap ini cukup menampung amarahnya.

Odi menatapku lalu kembali berbicara, “Awas saja sampai aku menemukan wanita lain di balik semua ini.”

“Hihiii, tidak akan!” Jawabku, meyakinkanya.

Dia mengusap air matanya sendiri lalu kembali berjalan memasuki rumah. Aku melambaikan tangan ke udara dari luar kepadanya sampai dia benar-benar hilang dari pandangan tanpa sempat membalas.

Aku lalu memukul kecil atap starlet seperti orang anggota marching band memukul senar berirama senang sebanyak 4 ketukan cepat, berlari memutari kap menuju pintu kemudi lalu menyetir starlet pulang. Di tengah jalan, aku membuka laci dashboard, mengambil CD Mix tape  kemudian memutarnya tepat di lagu “Pretend” dari Paul Tiernan. Pada bagian reffnya kau bisa menemukan baitnya seperti:

And does she pretend

To keep me from breaking

And does she pretend

And what should I expect from someone so broken?

Orang bilang di waktu seperti ini sebuah lagu akan memiliki koneksi yang lebih dalam dengan pendengarnya, setiap masuk dalam reff aku mulai bernyanyi, kukecangkan genggamanku pada kemudi, rasanya goosebumps. Dan tiap kali rasa itu datang aku semakin bernyanyi lebih keras mempertebal perasaan aneh itu. Aku kembali mengambil wadah cd, kemudian membalikanya.Di sana terdapat selembar post-it berwarna biru muda bertuliskan “Dari Odi, bahwa selera lagumu benar-benar payah!”, aku tersenyum kecil membacanya, meskipun dia terlihat tidak menyukainya tapi aku tahu bahwa itu tidaklah benar semuanya. Tidak ada yang bisa menolak Paul Tiernan, tidak jika kepercayaan dirimu sedang bagus.

Aku berbelok memasuki Mcdonald sektor 9, Bintaro untuk memesan satu buah Mc Spicy Chicken, menyantapnya di parkiran mobil. Pikiranku kosong, sambil melihat ke arah luar. Mcdonald ini adalah tempat pertama kali kita nge-date. Aku menggunakan kata nge-date karena kencan atau pacaran terdengar dangdut. Perlahan semua ingatan itu masuk tanpa permisi, rasanya begitu nyata, dan yang barusan itu nyata. Sesaat poselku berbunyi, aku melirik jam mobil sekarang baru pukul 11.05, tunggu sekitar 5 menit lagi dan posel itu akan berbunyi untuk keduakalinya, dan jika itu benar pasti kedua pesan itu dari Odi. Tapi hingga menit ke 7 tak ada pesan kedua, dan aku semakin ragu bahwa tadi adalah dari Odi, aku sudah berfikir untuk tidak membalasnya cepat-cepat karena buat apa lagi aku harus laporan padanya? Aku menegakan sandaran kursi kemudi, mengambil ponsel di sebelah lalu membukanya, yang ternyata hanya sebuah pesan promosi. Aku tertawa kecil.

Kukendurkan kembali kursiku, kini posisiku membentuk L, seperti terjebak ingin bersandar tatapi kau tetap mempertahankan posisi kakimu pada pedal. Dan ini terlintas, aku mungkin saja tidak perlu memberi laporan padanya, aku bisa pulang tanpa ada yang menanti atau tidak perlu menelfon di pagi hari membicarakan hal bodoh sampai kita sama-sama tertidur dalam kondisi telfon masih menyala. Semua itu terasa menyenangkan dan menyenangkan sekaligus menjemukan, memang benar bahwa semua kegiatan itu menyebalkan tapi tidak ada yang lebih menyenangkan selain harus melapor, bertengkar atau berbicara hal bodoh lewat telfon sampai kita tertidur. Itu adalah no.4 kegiatan yang menarik dilakukan dengan pasangan.

Aku bangun dari kondisi setengah tidurku, menutup jendela, menyalakan kontak lalu terburu-buru meninggalkan McDonald, menyetir pulang. Dijalan aku mengirim IM masih dalam perjalanan pulang, berharap dia membalas dan akan melefonku sebelum tengah malam. Sesampainya di rumah aku memarkir masuk starlet dan bergegas ke kamar menanggalkan skinny jeansku, membuangnya masuk kedalam keranjang lalu melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur. Sekarang pukul 23.44, seharusnya Odi akan menelfon pada 23.50, aku masih sempat, malah sudah bersiap. Waktu bergerak maju tanpa ada panggilan masuk dalam 20 menit kedepan,aku berfikir untuk menunggu 5 menit lebih lama lagi sambil bicara sendri, ” lima menit lagi.”

“Lima menit, lima menit.”

“Mungkin sebentar lagi, lima menit bukanlah waktu yang lama kawan, kau harus bersabar.”

“Mungkin dia sedang ke toilet dan dalam lima menit kedepan dia selesai dengan urusanya.”

“Tunggu sebentar lagi, kalau dalam lima menit tidak ada pesan aku akan pergi tidur.”

“Ini sudah 20 menit kedua dari yang pertama, pasti sebentar lagi Odi akan menelfonku.”

Aku berbicara seperti orang yang sedang bernegosiasi dengan waktu dan melakukanya berulang kali setiap batas 5 menit itu habis. Dan sampai matahari pagi menyelinap masuk lewat jendelaku, panggilan itu tidak pernah ada.


Update, ini salah satu draft yang gue tulis udah lama, maybe sejauh ini ini tulisan terbaik gue hehehe. Sempet ilang arah sebelumnya, habis ini mau kemana? dan belakangan ini gue sadar sesuatu dan nyoba untuk merangkai kembali. Buat lagu di atas, rasanya ga cocok, lupa akan koneksi pas hari itu, but biarkan gue nyoba nyari itu lagi. Jadi, palingan mainin lagu dimana kalian lagi ngerasa ga bisa menuhin ekspektasi seseorag maybe? coba deh, setau gue harusnya ini mengarah ke sana. Selamat membaca.

 

 

 

Advertisements