Mars meet Venus

TEASER-MARS-MET-VENUS-796x1024

“Memang apa salahnya jadi anak kecil? Maksudku dewasa itu benar-benar hal yang amat sangat menjemukan.”

Setidaknya keresahan dari anak kecil lebih logis daripada orang dewasa.

Hey folk! Para pembaca blog ini yang telah meluangkan waktunya buat mampir! Gue baru aja selesai nonton film Mars vs Venus(part cewek), pada 3 agustus mendatang part cowok udah bakal tayang. Alasan kenapa gue ngebet banget nonton part cewek adalah selama ini gue gapernah ngerti tentang cewek dan apa yang mereka alamin, maksudnya gue ga begiitu taumengenai makhluk bengis satu itu. Dan gue sedang di tengah-tengah nyari materi maka berangkatlah saya. Et sumpah bahasanya marketing abiessszzz.

Ok keluar dari topic dulu, atau gue akan memulai cerita baru. Kembali cerita pada blog ini.

Setelah nonton film tadi, cukup ngebawa gue kepada malam itu. Yeah, malam itu. Malam dimana gue dan si pacar tahu kalau semesta kita terbentuk tanpa rencana. Singkat cerita kita lagi pedekate, yailah smp kali bahasa ku ini(bataknya keluar,lho? ). Kita pergi ke Gandaria City waktu itu buat nonton The Amazing spiderman 2, entahlaah kita sama-sama pecinta marvel saat itu. Sehabis nonton dan debat tentang betapa menyebalkanya Gwen Stacy mati di akhir ceritanya, kita masuk ke bazar yang kebetulan di selenggarain di bagian depanya. Disana ada booth warna putih berjejer dari pintu loby timur sampe barat( bener gasih , pokonya sepanjang jalanan depan), disana gue bisa ngeliat kebanyakan adalah makanan sama baju yang di jual. Gue dan dia jalan dengan ritme hampir bareng ngelewatin kerumunan itu, ini mungkin bakal terdengar sedikit menggelikan tapi pas itu gue berusaha keras buat ngegandeng biar gak kepisah karena emang cukup ramai meleng dikit bisa ke seret arus mulai dari pintu awal lagi.

Gue mencoba ngerenggangin jari di tangan kiri gue yang dari tadi dikepal, gue ayun-ayunkan nyoba ngeraih jarinya yang jaraknya enggak lebih jauh dari panjang 3 ruas jari telunjuk gue sambil masih terus ngobrol hal-hal lalu. Langkahnya tiba-tiba terhenti, dia lalu spontan narik pergelangan tangan gue, terus bilang “Cobain fortune teller itu yuk!”, gue dengan pasrah membiarkan dia narik sesukanya.

Pfffttt siapa yang percaya sama ramalan. Maksudnya, coba mana mungkin kartu bisa nunjukin masa depan seseorang, ada-ada aja. Mendingan juga ngikutin ramalan zodiak di detik.com. Tunggu dulu, eh, asmaranya aries lag bagus nih! Tembak aja apa ya sekalian hari ini? Buat virgo: kemungkinan mantan ngajak balikan udah di depan mata. GOBLOK!!! Kenapa ga komppak gini sih horoscopnya! Bakar! Musrikkk! Bakarr! Bakarr!

Gue dipersilahkan duduk setelah dia, si fortune teller ini cewek yang gue taksir umurnya masih 24 tahun, dia pakai baju item terusan sampe bawah, rambutnya lurus dan pake kacamata agak kebesaran. Di mejanya lengkap ada bola magic, itu loh yang di dalem bolanya ada listrik-listriknya kalo disentuh bisa nyetrum( nyetrum ga sih? ). Dia menanyakan, siapa duluan sambil me-shuffle kartu remi yang ukuranya cukup besar, gue juga bingung dia gapake tarot. Sebagai laki-laki yang berani, gapercaya sama gituan plus gue penasaran, maka gue minta duluan.

Si peramal menyuruh gue buat tutup mata sepuluh detik sambil focus menghitung mundur, terus ngambil beberapa kartu di tanganya yang udah selesai di shuffle. Si peramal lalu memisahkan kartu gue sama kartu di tanganya, di ngebagi 9 kartu itu dalam porsi 3-3 sama rata terus di tumpuk berdasarkan urutan pertama ngambil. Gue dan dia Cuma bisa melongo.

Dia nanya, “ Tanggal lahirnya kapan?”

Gue ngajawab secara lengkap dan utuh,” Yogyakarta, 9 april 1998” Yah walaupun gue tahu tempatnya gak di suruh siapa tau hasil ramalanya bakalan baik.

Dia diem.

Gue diem.

Hening.

“Ini yang ada di kartu kamu.” Katanya ngebuka kembali obrolan.

“Glek.”Gue nelen ludah. Gugup. Gue takut jangan-jangan dia tau juga ramalan zodiak bulan ini, bisa mampus kalo dibilang sama persis kayak di internet, kalo Gemini punya chance balikan sama mantan. Yak bagus, ditambah kalo ngebandingin gue sama mantanya jauh bener, kayak langit dan kotoran kuda. Jlebbb.

“Ini tentang ember anda.” Katanya, lalu melanjutkan. “Ember anda terlalu kecil untuk seorang diri. Buat kapasitas anda butuh sesuatu yang besar untuk menampung airnya.” Dan kemudian berhenti. Peramal tadi ngelakuin hal yang sama ke Dia, lalu menanyakan tanggal lahirnya, yang emang bener zodiaknya Gemini.

Setelah negbuka beberapa kartu, peramal ini terlihat tersenyum tipis terus ngangguk-ngangguk seolah dia Conan Edogawa yang berhasil mecahin kasus pembunuhan tiap kali dia berada. Dia ibarat Conan, Dia adalah tersangka, dan gue adalah korban yang bentar lagi mati gara-gara ada si peramal kampret ini!

“Kartunya cocok! Mbaknya ini berperan sebagi kantung kresek, lebih elastis dari pada sekedar ember. Dia tebel dan bisa ngerenggang cocok buat nampung air kamu!”

Gue dan dia spontam kaget.

KAMPRETTT! Blak-blakan banget ni orang!

Gue suka!

Gue ngelongo lagi begitupun juga Dia, gak percaya. Kemudian liat-liatan canggung sebelum akhirnya ketawa menganggap ramalan ini jelas-jelas ngaco. Gue ikutan ketawa walaupun gak rela nganggep ini sebuah guyonan, buat gue ini sesuatu yang serius dan si peramal tadi ngebuka jalan gue ke Dia.

Dan setelah ngelewatin kurun waktu dimana gajah dewasa telah usai demgan kandunganganya, semua ramalan tadi patah. For sure, problemnya sama kayak di film Mars vs Venus Cuma endingnya aja yang beda.

Oh iya, tadi gue nonton sendirian karena Opet lagi pulang kampung, dan gue gak punya orang lain buat di ajak. Sehabis nonton gue jalan sambil sedikit merealisasikan ceritanya ke cerita gue. Yah film emang curang, endingnya bisa di atur dan tokoh utamnya selalu berhasil di buat romantic sedemikian rupa, tapi tidak sama hubungan gue denganya.

Kita yang dulu saling percaya bahwa ember itu bakalan bisa di ganti dengan kresek miliknya, harus berhenti karena ego masing-masing. Ego yang telah melahap habis kantung kresek miliknya, ego tentang menjadi dewasa dan melupakan siapa sebenarnya kita di dalam umur 17 tahun, tega memenjarakan siapa saja yang melupakan waktu. Yeah, dia pantas disebut hakim waktu.

Gue lalu tertawa kecil sambil menuju parkiran. Gue sadar bahwa sebenernya yang dia punya bukanlah kantung kresek, tapi ember yang lebih lebar talpi tidak cukup besar. Itu tidak elastis sama sekali. Sebenernya simple, kalo saja air di dalamnya di tuang keluar sedikit baik punya gue atau dia dan buat di isi yang baru, mungkin endingnya bakal kayak di film tadi, dan menyebalknaya si Opet setuju akan hal itu, dan gue gak akan nonton film ini, dan tulisan ini enggak akan muncul di blog ini, atau bahkan blog ini yang sebenernya enggak akan pernah ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s